loading...

JIKA DAHULU PERNAH BERZINA, INILAH YANG PERLU DI LAKUKAN OLEH SI PELAKUNYA?



iklan responsive


Pada zaman sekarang, perzinaan seolah sudah lumrah. Bahkan sudah rahasia umum orang yang berpacaran itu pasti pernah berzina dengan pacarnya.

Entah itu zina hati, zina mata, atau yang paling parah yaitu zina kemaluan (berhubungan badan).

Apalagi banyak orangtua yang membolehkan anak-anaknya berpacaran, bahkan malu kalau anaknya tidak punya pacar. “Nggak laku,” katanya. Tidak heran dalam berbagai survei yang dilakukan di kota-kota besar di Indonesia kepada beberapa sekolah dan kampus, sejumlah remaja perempuan ternyata sudah tidak perawan lagi. Innalillaah…

Perzinaan yang mulanya dipandang sangat hina, kini memasuki zona kewajaran dalam masyarakat. Banyak orang yang tidak peduli terhadap isu zina dan menganggapnya wajar. Dalam Islam, zina dipandang sebagai hal yang sangat rendah bagi pelakunya.

Jangankan mempraktikkan zina, mendekat kepada hal yang mengarahkan seseorang berbuat zina saja sangat dilarang. “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’ [17]: 32)

Dari fenomena ini, banyak para wanita menjadi korban dengan kehilangan kehormatan mereka pada pacarnya. Tidak terkecuali para perempuan muslimah, yang sebelum hijrah dulunya pernah berpacaran dan pernah diajak pacarnya melakukan perbuatan zina.

Zina yang dimaksud dalam pembahasan kali ini adalah zina kemaluan, alias sudah pernah bersetubuh tanpa ikatan pernikahan yang sah. Karena zina sendiri ada banyak, sebagaimana sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membahas tentang macam-macam zina,

“Telah ditentukan atas setiap anak Adam bagiannya dari perbuatan zina, ia pasti melakukannya. Zina kedua mata adalah dengan memandang, zina kedua telinga adalah dengan mendengarkan, zina lisan adalah dengan berbicara, zina kedua tangan adalah dengan menggenggam, dan zina kedua kaki adalah dengan melangkah, sedangkan hati berkeinginan dan berandai-andai, dan kemaluan mempraktekkan keinginan untuk berzina itu atau menolaknya.” (Muttafaqun ‘alaih)

APA YANG HARUS DILAKUKAN BILA DULU SUDAH PERNAH BERZINA?
Seorang akhwat bertanya, “Afwan ana punya masalah yang sampai sekarang belum ditemukan jawabannya. Sejujurnya ana pernah melakukan perbuatan dosa besar (zina), ana selalu dihantui rasa bersalah, lebih-lebih ana begitu takut akan azab Allah. Alhamdulillah sekarang ana telah berhijrah. Namun semakin sering ana mengikuti kajian, rasa takut ana semakin bertambah. Semakin banyak orang memandang diri ini baik, semakin ana merasa terbebani karena terlalu banyak aib dalam diri. Bagaimana solusi untuk mengatasi hal ini?”

1. Taubat

Dosa sebesar apapun jika seseorang hamba mengakuinya dan bertobat kepada Allah Subhanahu Wata’ala niscaya Allah Subhanahu Wata’ala akan mengampuninya. Dan begitupun dosa kecil pasti Allah akan mengampuni dosa tersebut.

Perlu diketahui, banyak manusia lalai akan dosa kecil sehingga ia lupa untuk meninggalkannya dan terus menerus ia melakukannya. Banyak orang terngiang dengan zina yang pernah ia lakukan, sehingga ia merasa dirinya sudah terlalu kotor untuk bertaubat sehingga berputus asa dari rahmat Allah.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az Zumar: 53)

Padahal kalau kita tahu, bahwa dosa tidak shalat lima waktu itu jauh lebih besar dari dosa berzina. Itu mufakat di kalangan para ulama. Mereka sepakat bahwa tidak shalat wajib dosanya lebih besar dari zina, menenggak minuman keras, mencuri, hingga memerkosa sekalipun. Tapi banyak orang yang merasa tenang-tenang saja saat meninggalkan shalat.

Ini bukan berarti kita mengecilkan arti dosa, termasuk berzina. Zina termasuk dosa besar. Siapa pun yang melakukannya, wajib bertaubat. Ia harus menyesali perbuatan itu sedalam mungkin. Tapi, jangan sampai menimbulkan keputusasaan sedikit pun.

Taubat menghapus segalanya. Tinggal, pikirkan bagaimana menjalani hidup sesudahnya, itu saja. Dan syarat taubat nasuha itu adalah:

Meninggalkan dosa tersebut. Sebelum taubat dilakukan, seorang yang berdosa harus berhenti dulu dari melakukan dosa-dosanya. Sebagaimana Ibnul-Qoyyim katakan: ”Taubat mustahil terjadi, sementara dosa tetap dilakukan”.

Menyesal atas perbuatannya. Bukan cuma berhenti dari dosa, tetapi harus muncul sebuah perasaan sesal di dalam hati yang paling dalam atas dosa itu. Rasulullah bersabda: ”Menyesal adalah taubat”.

Berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Ibnu Mas’ud berkata: ”Taubat yang benar adalah: Taubat dari kesalahan yang tidak akan diulangi kembali, bagaikan mustahilnya air susu kembali pada kantong susunya lagi.”

Ikhlash. Ibnu hajar berkata: “Taubat tidak sah kecuali dengan ikhlash”. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” (QS. At Tahrim : 8 ). Yang dimaksud taubat yang murni adalah taubat yang ikhlash.

Sebelum Mati Taubat harus dilakukan pada masa diterima-nya taubat, yaitu sebelum saat sakarotul maut (kematian) dan sebelum matahari terbit dari barat atau qiamat terjadi.

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّى إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الآنَ وَلاَ الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ أُوْلَـئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang” (QS. An-Nisaa : 18).

2. Menjaga Aib Perbuatan Zina

Kepada para wanita muslimah, hendaknya kalian menjaga kehormatan dan harga diri kalian. Karena mahkota utama seorang wanita adalah kehormatan dan harga dirinya. Jauhi hubungan dengan lawan jenis sebelum pernikahan, karena itu cuma akan merugikan diri sendiri di masa depan.

Terkhusus untuk para muslimah yang memiliki masa kelam, maka bersegeralah bertaubat kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Lalu tutuplah aib di masa lalu untuk menjaga kehormatanmu. Dan berhijrahlah kepada agama Allah untuk menjadi wanita muslimah yang shalihah untuk menebus kesalahan di masa lalu.

tutupilah aib masa lalu dengan taubat
Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berpesan kepada umatnya yang pernah berbuat dosa, “Wahai sekalian manusia, aku telah mengingatkan kalian untuk berhati-hati pada batasan-batasan Allah. Barangsiapa (sudah) terjerumus dalam perbuatan yang jelek, hendaknya ia menutupi dirinya dengan tirai Allah.” (HR. Hakim)

Nabi juga berpesan agar aib yang sudah Allah maafkan dan Allah tutupi, janganlah diungkit-ungkit lagi. “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Allah telah menutupi aibnya, namun di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi.” (HR. Bukhari)

Kemudian bila menikah, tak ada kewajiban seorang istri atau suami menceritakan segala dosanya di masa lampau. Apapun itu. Soal bekas pada diri seseorang yang pernah melakukan dosa memang berbeda-beda. Berzina menimbulkan efek fisik yang bisa saja dirasakan.

Tapi, bila perzinaan itu sudah ditutup dengan taubat kepada Allah, tak ada keharusan menceritakannya, bahkan bisa jadi menceritakannya dilarang karena bisa menimbulkan kericuhan.

ikalan saiz 250





JOM DERMA IKHLAS KE :


loading...

0 Response to "JIKA DAHULU PERNAH BERZINA, INILAH YANG PERLU DI LAKUKAN OLEH SI PELAKUNYA?"

Post a Comment

loading...
'));